Ditulis Oleh : Ashka Widy Fakhma Adzkiya
“Nduk, ngaji yang rajin, biar hidupmu berkah,” kata-kata Bunda yang selalu terngiang dalam pikiranku. Saat lelah menghampiriku memurojaah hafalan ayat-ayatnya Allah.
“Ayo Ashka kamu pasti bisa,” gumamku dalam hati menyemangati diri sendiri. Seperti biasa, sore itu aku buka Al-Qur’an ungu kesayanganku di teras belakang. Kubuka juz 30 aku mulai dari surah An Naba.
“Amaa nata sayaa allun. Nah kan aku salah lagi,” ucapku dalam hati.
“Ayo Ashka semangat, kamu pasti bisa,” kata Bunda memberiku semangat.
Setiap hari aku murojaah disimak Bunda dan belajar tajwid bersama ustadzah Latifah dengan tekad bulat aku mulai bersemangat untuk segera lulus tasmi.Hingga waktu tes tiba, pagi itu Aku berangkat ke sekolah dengan hati deg-degan. Dengan ditemani temanku Felisa menuju masjid Al Uswah. Kuawalidengan Bismillahirrahmanirrahim kubaca hasil hafalanku dengan teliti dan cermat. Suara lantang ku terdengar di speaker masjid. Sampailah aku di surah an naas dengan suara parau sambil menahan tangis aku selesaikan misiku untuk memberi sepasang mahkota untuk ayah bunda kelak di surga dengan predikat Mumtaz. ***

